Social Media

Tentang Perasaan
Showing posts with label Tentang Perasaan. Show all posts

Tiga Tahun Kemudian, Akhirnya Kembali Kemari

Thursday, June 22, 2023

No comments
Judulnya amat sangat wow ya, hahaha. 🤣🤣🤣 
 
 
Jadi, selama 3 tahun apa saja yang terjadi? Amat sangat banyak, hahaha. 

Terutama mana menyangka jika Covid-19 akan seganas itu. Apalagi sampai vaksin banyak sekali dramanya dan rasanya awal 2020 mana berpikir akan segila itu.

Kemudian, saya yang akhirnya benar-benar kehilangan teman terbaik karena ya namanya juga hidup, mau memperbaiki sesuatu jika sudah rusak sejak awal bakalan sia-sia belaka. 

Kemudian, operasi pengangkatan tiroid yang membuat saya sempat kehilangan suara 2,5 bulan dan Mama sampai nangis, berpikir saya tidak akan bisa berbicara selamanya. 

Kemudian, saya sudah bebas dari obat-obatan psikotik meski saya masih tetap memiliki bipolar. Semua orang berpikir jika dia akan bisa seperti itu, padahal tidak.

Kemudian, saya menemukan teman-teman baru. Awalnya hanya satu, kemudian bertambah dan terus bertambah.

Sebenarnya, ada banyak yang bisa diceritakan kemari. Namun, satu-satu dulu ya. Karena kembali berniat menuliskan kemari itu sudah kemajuan yang besar, alias terima kasih Mbak Annisa Tang yang akhirnya membuatku kembali mengingat eksistensi ini. Berawal ketemu di SCENE 2023, sekamar dan akhirnya jadi teman beneran setelah selesai acara.

Yah, meski sebenarnya perjalanan saya di SCENE 2023 masih jauh dari kata selesai sebenarnya. Nanti bakalan buat ceritanya deh di sini, siapa tahu ada kegunaannya untuk orang-orang di masa depan (jikalau acaranya masih eksis sih, tapi harapannya iya).

Sebenarnya, saya baru teringat jika pernah membuat harapan yang dicapai dalam 7 tahun setelah menuliskan hal tersebut. Saya membacanya dan baru ada 1 yang tercapai dari hal-hal di sana. Namun, saya memutuskan untuk menurunkannya dari blog ini karena ya lebih baik menyimpan mimpi-mimpi itu sendirian dan sudah mencapainya dahulu, baru dibagikan.

Apa lagi ya?

Sepertinya saya akan memindahkan postingan-postingan dari blog lawas kemari. Untuk arsipan cerita saya saat mengalami Bipolar, untuk memberitahukan bahwa proses perjalanan saya untuk menjadi saat ini tidaklah instan. Juga saya akan membuat arsipan perjalanan menulis, karena saya pada tahun 2020 pasti tidak akan menduga jika di tahun 2023 masih keras kepala untuk menjadikan menulis sebagai sebuah karir.

Jadi, sampai bertemu di postingan selanjutnya!
Read More

Tentang Perasaan Kepadanya

Tuesday, December 3, 2019

Jika di postingan sebelumnya saya menjelaskan fase menyadari perasaan kepadanya, maka ini akan menjelaskan apa yang terpikirkan tentangnya. Saya berpikir panjang saat perjalanan pulang setelah meminum kopi yang diberikan rum dan sampai pada pertanyaan ini.

Apa saya benar-benar menyukainya atau hanya menyukai sensasi ternyata masih bisa jatuh cinta pada lelaki di dunia nyata dan bukan pada oppa yang biasa hanya bisa dilihat melalui layar?


Jujur ini sangatlah menganggu saya karena ... rasanya semua jadi tidak masuk akal sekaligus masuk akal di saat bersamaan. Mengerti tidak sih, ada di titik yang membuat "aha!" karena akhirnya menemukan jawaban yang masuk ke dalam logika?

Saya tahu menyimpulkan sendiri itu tidaklah baik, tetapi setelah menemukan jawaban ini saya merasa lebih tenang. Bahwa saya tahu di posisi mana harus meletakkan hati dan silahkan panggil saya penakut karena tidak mau ambil resiko untuk mencintai. Namun, saya memang tidak mau karena pada dasarnya sejak awal tidak mendesain diri sendiri untuk hal ini.

Lagipula, setelah saya mengetahui apa yang diinginkan membuat lega. Bahwa saya tahu kalau mengalami kemungkinan terburuk tidak akan merasakan sakit yang parah. Setidaknya ada waktu untuk menyembuhkan diri sendiri dan akhirnya bisa fokus dengan apa yang diinginkan untuk dicapai.

Dengan kesimpulan itu, saya bisa lebih tenang. Semua rencana kehidupan bisa lebih fokus dan mungkin memang tahun 2020 bukan tahun saya untuk merasakan cinta seperti orang lain. Tidak apa-apa, sudah biasa juga seperti ini dan saya baik-baik saja nyatanya.

Karena Tuhan itu adil, saya mungkin dirasa tidak akan pernah siap dengan hal-hal seperti ini.
Read More

Tentang Dia yang Membuat Kembali Merasa

Thursday, November 28, 2019

Sejujurnya setelah membaca postingan menyalahkan orang ini karena membuat saya mengambil obat dengan dosis naik 100% itu, rasanya aneh mau menuliskan tentangnya. Namun, lihat siapa yang menuliskan tentangnya sekarang? Mungkin karena postingan waktu itu masih fase denial, sekarang fase menerima kenyataan bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa dikontrol, kecuali aksi dari diri sendiri.




Sebenarnya kalau mau dijelaskan secara rinci, ada 4 fase dengannya ini. Fase tidak sadar perasaan sendiri, fase menyadari perasaan sendiri, fase denial pada perasaan sendiri dan fase menerima perasaan sendiri. Saya akhirnya di fase ke empat dan itulah yang ingin diceritakan kemari. Melewatkan semua fase dan apa saja yang terjadi selama fase itu. 

Hanya untuk sebuah pembelajaran bagi yang selama ini memutuskan untuk tidak merasa, lalu tiba-tiba kembali merasakannya.

FASE TIDAK SADAR PERASAAN SENDIRI
Saya jujur saya tidak tahu kenapa bisa berakhir seperti ini. Hal yang pertama terlintas saat melihatnya adalah dia sangat lokal seperti Koko-Koko Surabaya, yang ternyata tidak. Saya memang mengamatinya sekilas beberapa kali dan menyadari jika dia tipe yang sering mendekati saya semasa SMA dan alarm tanda bahaya sudah merasa dia pantas untuk dijauhi. Saya bersikap biasa selama bekerja dan seperti itu, seharusnya.

Harusnya merokok, tindikan dan klubbing jam 2 malam sudah cukup membuat saya semakin yakin untuk mundur karena itu bukanlah tipe saya. Kenyataannya....

FASE MENYADARI PERASAAN SENDIRI
Entah kapan saya menyadari hal ini, tetapi tiba-tiba saja di dekatnya terasa nyaman meski tanpa kata.

Sebenarnya saya tidak mau kepedean, tetapi kata teman, dia akan mencari keberadaan saya jika tidak terlihat pada pandangannya. Tidak percaya sebenarnya, karena semua itu mungkin saja hanyalah kebetulan belaka. Dia berkeliling karena saya tidak ada di pandangan karena mengira pergi tanpa izin. Dia juga lebih baik kepada saya karena tidak terkendala bahasa untuk berkomunikasi. tidak seperti yang lainnya.

Namun ... sampai hari ini masih bertanya-tanya tujuannya menjadi orang pertama melihat IG story saya selama beberapa hari itu tujuannya apa? 

FASE DENIAL PERASAAN SENDIRI
Saya pikir, saat event berakhir maka perasaan ini juga akan berakhir. Namun, ternyata perasaan ini semakin kuat dan membuat nelangsa sendiri. Apalagi saat saya konfirmasi apa yang terjadi di malam terakhir, dia malah balik bertanya siapa yang melakukannya?

Membuat saya yakin ini hanyalah perasaan satu pihak dan ternyata ... itu menyakitkan. Sampai saya mendrama dan meminta dosis obat dinaikkan 100% kepada dokter dan menyalahkannya karena jatuh cinta kepadanya.

FASE MENERIMA PERASAAN SENDIRI
Ini baru terjadi beberapa hari ini, setelah akhirnya lelah denial pada diri sendiri. Akhirnya menerima saya menyayanginya. Akhirnya menerima jika perasaan ini juga bertepuk sebelah tangan, tidak masalah. Akhirnya menerima dan merendahkan ekspetasi untuk tidak berharap kepadanya.

Ekspetasinya sebegitu rendahnya sampai saya hanya ingin diterima sebagai temannya. Tidak apa-apa jika dia akhirnya bersama yang lain, karena dia sudah membuat saya banyak berubah menjadi orang yang lebih baik. Menjadi orang yang tidak pernah terbayangkan akan bisa eksis pada diri saya.

Sepertinya ini antara level menerima atau level tahu diri tidak bisa dibedakan lagi.

*

Saya rasa, setiap orang punya fase seperti ini saat menyukai seseorang. Saya tidak yakin akan bertahan berapa lama perasaan ini, tetapi yang ingin saya ucapkan terima kasih kepadanya karena banyak hal berubah secara tidak langsung karenanya. Mungkin ini postingan orang jatuh cinta paling tidak banget karena tidak menye, tetapi bagi saya yang penggunak logika ini sudah menye maksimal.

Can I ask you question? 
*semua percakapan padanya dimulai dari ini*
Read More

Tentang Perasaan yang Membuat Kacau Semuanya

Monday, November 18, 2019

Dari sekian banyak hal yang bisa terjadi di BBW, saya jatuh cinta.

Dari sekian banyak masalah yang terjadi di kemudian hari, obat depakote saya dosisnya naik karena tidak mempan menyeimbangkan zat kimia di otak.

Dari sekian banyak ketakutan yang bisa dirasakan, baru kali ini saya takut mati konyol karena tersedak obat.


Sekadar gambaran, saya mengidap mental illness bernama bipolar. Intinya, saya bisa berubah mood secara drastis dalam jangka waktu singkat akibat ketidak seimbangan zat kimia di otak. Untuk membuatnya seimbang, maka saya harus meminum obat tertentu. Saya kalau mau hidup normal, harus meminum obat tersebut setiap hari, seumur hidup.

Hari ini saya konsultasi ke dokter psikiatri dan sudah diduga, beliau tidak bisa mengerti kenapa bisa-bisanya tidur selama 2 atau 3 jam sehari padahal obatnya sudah lama cocok. Akhirnya saya menjelaskan alasannya, jatuh cinta kepada seseorang dan beliau tampaknya tidak menyangka akan mendapatkan cerita seperti ini dari saya.

Saya ingat sekali ditanya apakah benar-benar jatuh cinta atau hanya halusinasi. Sebenarnya berharap juga hanyalah halusinasi, tetapi kenyataanya sudah lama sekali semenjak ada suara-suara di kepala terdengar dan saya cocok dengan obat yang mengatasi halusinasi. Dengan terpaksa, dokter saya menaikkan dosis menjadi 2x lipat dan tadinya hanya mau memberikan waktu seminggu. Namun, saya meminta 2 minggu untuk melihat reaksi yang sebenarnya.

Meski itu berarti harus dengan tugas tambahan, memberikan laporan dalam rentang waktu 2 minggu tersebut. Saya tidak khawatir, karena memiliki Daylio sebagai pencatat dan bisa diubah menjadi PDF yang di cetak. Hal yang dikhawatirkan justru cocok dengan obat tersebut dan itu adalah bencana jika sampai terjadi.


Karena ukurannya yang lebih besar dari yang biasanya saya minum. Juga karena rasanya ketakutan setiap meminumnya karena takut tersedak dan kemudian mati. Seumur hidup, saya belum pernah berdoa panjang sebelum minum obat. Namun, depakote ER500 membuat saya melakukan hal yang tidak pernah dilakukan itu.

Mungkin akan bercerita efek samping obatnya seperti apa nantinya setelah 2 minggu terlewati. Namun, satu hal yang penting adalah saya jera untuk jatuh cinta. Benar-benar jera sampai berpikir jika jatuh cinta maka harus dibayar dengan ini, maka buatlah saya tidak merasa saja. Itu jauh lebih baik daripada setiap menatap depakote ER500 saya merasa was-was karena tahu keseimbangan zat kimia di otak tidaklah berada dalam situasi idealnya.
Read More