Social Media

Tentang Depresi
Showing posts with label Tentang Depresi. Show all posts

Tentang Mencintai Diri Sendiri

Sunday, April 5, 2020

Sudah lama tidak menulis kemarin dan sebenarnya lumayan canggung karena bingung harus mulai bercerita dari mana. Namun, kejadian hari ini membuat saya merasa harus menuliskan ini agar menjadi pengingat jika suatu hari nanti terjatuh ke dalam lembah yang sama.

Jangan lupa cintai diri sendiri.


Hari ini, secara spontan saya ingin memainkan make up dan saya yakin skill sudah berkurang jauh. Namun, siapa yang menduga jika hasilnya jauh dari ekspetasi dan membuat saya bahagia? Seolah orang yang dilihat dikaca itu bukanlah saya dan membuat saya terdiam cukup lama.

Kapan saya merasa cantik?

Kapan saya merasa bahagia saat melihat pantulan diri di kaca?

Kapan saya benar-benar mengurus diri sendiri sehingga menjadi seperti ditampilkan di kaca?

Pertanyaan itu yang membuat saya terdiam dan hampir menangis. Karena saya sadar tiga bulan belakangan hidup begitu kacau dan setiap melihat diri sendiri di kaca rasanya hanya ingin memaki karena tidak bahagia. Karena sedang tidak mencintai diri sendiri.

Karena banyak hal yang terjadi selama 3 bulan ini.

Mulai saya kehilangan teman baik yang selama ini berbagi banyak hal, tentang saya yang tidak begitu menyukai lagu BTS yang terbaru dan tidak ingin menjadi ARMY lagi karena banyak yang merasa superior dari grup lainnya. Semua grup memiliki kisahnya sendiri dan meski tidak semua ARMY seperti itu, tetapi semua orang pasti akan menganggap semuanya (termasuk saya) adalah orang-orang sombong itu.

Waktu itu, alasan saya mau ke psikiatri adalah menyukai lagu BTS dan merasa harus menyelamatkan diri sendiri. Namun, saat di fase saya tidak menyukai lagu BTS yang terbaru dan tidak mau menjadi bagian ARMY, saya hilang arah dan limbung. Saya memutuskan berhenti minum obat dan berhenti datang ke psikiatri. Bahkan meski saya selalu keluar rumah setiap hari menemui teman-teman saya agar menjaga kewarasan, itu tidak cukup.

Saya merasa tidak baik-baik saja karena tidak bertemu psikiatri, tetapi saya tidak mau minum obat lagi. Saya benci obat-obat itu dan memutuskan tidak akan meminumnya lagi. Namun, saya tahu itu salah dan pada akhirnya saya mengambil langkah tegas setelah menangis bertengkar dengan mama karena lebih memilih orang asing untuk dibela daripada saya, anaknya sendiri.

Pergi ke klinik kopri untuk meminta surat rujukan ke dokter psikiatri yang baru, bukan yang selama setahun lebih ini saya selalu datangi. Saya merasa harus menyelamatkan diri sendiri dan tidak perlu percaya dengan siapa pun kecuali diri sendiri dan psikiatri pilihan saya.

Tentang psikiatri baru ini akan saya ceritakan di postingan lain. Namun, setelah itu saya mulai merasa tenang dan hidup mulai bisa lebih teratur. Saya bisa mengontrol emosi yang seharusnya di saat itu akan merasa marah karena tidak dianggap sebagai anak yang berhak tahu akan segala situasi yang mama hadapi.

Saya bisa tidur di bawah jam 12 malam.

Saya bisa bangun pagi meski bukan alasan bekerja di kantoran (meski lagi korona begini, kebanyakan kantor juga meliburkan karyawannya).

Saya bisa kembali merawat diri.

Saya bisa merasa bahagia dan merasa cantik.

Saya bisa merasa kembali mencintai diri sendiri.

Mencintai diri sendiri itu proses yang tidak ada akhirnya. Jika suatu saat saya terjatuh kembali, adanya tulisan ini bisa sebagai pengingat bahwa saya bisa melewati semuanya. Karena pada akhirnya, semua jawaban itu seklise 'waktu akan menjawab semuanya'.
Read More

Tentang Membantu Orang Lain

Sunday, December 1, 2019

Pernah merasa tidak tahu harus melakukan apa saat mengalami depresi (sebelum didiagnosa bipolar), membuat bertekad jika ada yang membutuhkan bantuan akan saya berusaha bantu. Lalu saat menengok setahun belakangan, ternyata saya sudah banyak berubah dan impian itu menjadi nyata.

Padahal setahun yang lalu, di bulan ini saya terus menangis di tengah malam karena lelah untuk bertahan hidup. Sungguh waktu setahun bisa mengubah segalanya.


Saya tidak pernah menutupi jika memiliki penyakit mental, tidak merasa malu karena itu adalah bagian dari diri ini dan merasa jika ada yang tidak bisa menerima saya apa adanya, mungkin memang tidak berjodoh untuk menjalin relasi dengannya.

Sesederhana itu pemikiran saya.

Namun, orang yang kebetulan saya temui dan saya bantu tidak memiliki pemikiran serupa. Saya tidak menyalahkan, karena siapa yang bisa menerima diri ini memiliki penyakit mental? Saya juga awalnya tidak mau menerima dan bisa sampai di fase sekarang itu butuh perjuangan yang berat dan tidak instan. Jadi saya tidak mengekspetasikan orang-orang yang saya temui ini bisa langsung menerima dirinya begitu menyadari ada yang salah dengan dirinya.

Mungkin justru karena tidak mengekspetasikan apa pun itulah, saya bisa membantu mereka. Karena entah mengapa bagi mereka saya bisa memposisikan diri dan dipercaya. Mungkin karena pengalaman di mana saya menghadapi ini sendirian, sehingga mencoba membantu sebisanya.

Saya juga belajar, saat menolong seseorang jangan memiliki eskpetasi apa pun. Karena niat ingin sembuh dan bahwa mereka mau ke dokter dan terus melanjutkan sesi hingga benar-benar sembuh itu adalah dua hal yang berbeda. Karena tidak semua orang sanggup untuk bertahan pada prosesnya dan itu bukanlah tanggung jawab saya untuk memastikan orang tersebut untuk sembuh.

Desember tahun ini, saya berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik agar bisa menolong lebih banyak orang lagi.
Read More

Pada Akhirnya, Mereka Memilih untuk Berhenti

Sunday, November 24, 2019

Saya menarik napas panjang saat membaca berita tentang Goo Hara yang ditemukan meninggal hari ini. Teringat Sulli yang juga mengakhiri hidupnya dan saya tidak mau menyalahkan mereka karena tidak tahu apa yang telah dilalui selama ini.

Hanya saja, satu hal yang saya tahu. Pada akhirnya, mereka memilih untuk berhenti berjuang dari dunia ini dan tidak apa-apa. Semua punya pilihan dan mungkin pilihan mereka tidak bisa dimengerti oleh orang lain.


Saya jujur pernah terpikirkan untuk mengakhiri hidup karena kejadian Sulli. Namun, sekarang saya tidak terpikirkan meski Hara melakukannya. Mungkin ... mungkin saya masih punya alasan meski termasuk tidak berguna dan egois. Saya belajar, semua alasan aneh dan egois itu bagi orang-orang depresi bisa menjadi harapan untuk hidup.

Sedih rasanya saat hal yang selama ini menemani saat menjadi fans KPOP sejak SMP, memutuskan pergi. Saya tidak tahu alasan mereka melakukannya, tetapi saya harap mereka tidak merasa sakit seperti di sini.

Mungkin, dunia ini terlalu kejam untuk mereka.

Mungkin, mereka sudah terlalu lelah untuk berjuang yang pada akhirnya tidak dihargai.

Mungkin, ini memang sudah jalan terbaik bagi mereka.

Pada akhirnya, ini tentang niat menolong diri sendiri dan juga lingkungan sekitar. Karena percuma salah satu terpenuhi, tetapi pihak lainnya tidak terpenuhi. Semua harus seimbang dan saya rasa, mereka yang memutuskan untuk berhenti pasti sudah berusaha yang terbaik sebelum melakukannya. Ini bukan tentang iman seperti orang-orang tidak punya perasaan katakan di media sosial, tetapi ini tentang jiwa yang lelah untuk berusaha yang terbaik.

Karena kadangkala, menjadi terbaik itu melelahkan. Karena menjadi panutan itu tidak selalu menyenangkan. Karena menjadi diri sendiri kadang justru sebagai senjata mematikan untuk dihancurkan oleh dunia.

Terima kasih Jonghyun, Sulli dan Hara.
Maaf karena tidak bisa menyelamatkan kalian lebih awal.
Read More

Tentang Perasaan yang Membuat Kacau Semuanya

Monday, November 18, 2019

Dari sekian banyak hal yang bisa terjadi di BBW, saya jatuh cinta.

Dari sekian banyak masalah yang terjadi di kemudian hari, obat depakote saya dosisnya naik karena tidak mempan menyeimbangkan zat kimia di otak.

Dari sekian banyak ketakutan yang bisa dirasakan, baru kali ini saya takut mati konyol karena tersedak obat.


Sekadar gambaran, saya mengidap mental illness bernama bipolar. Intinya, saya bisa berubah mood secara drastis dalam jangka waktu singkat akibat ketidak seimbangan zat kimia di otak. Untuk membuatnya seimbang, maka saya harus meminum obat tertentu. Saya kalau mau hidup normal, harus meminum obat tersebut setiap hari, seumur hidup.

Hari ini saya konsultasi ke dokter psikiatri dan sudah diduga, beliau tidak bisa mengerti kenapa bisa-bisanya tidur selama 2 atau 3 jam sehari padahal obatnya sudah lama cocok. Akhirnya saya menjelaskan alasannya, jatuh cinta kepada seseorang dan beliau tampaknya tidak menyangka akan mendapatkan cerita seperti ini dari saya.

Saya ingat sekali ditanya apakah benar-benar jatuh cinta atau hanya halusinasi. Sebenarnya berharap juga hanyalah halusinasi, tetapi kenyataanya sudah lama sekali semenjak ada suara-suara di kepala terdengar dan saya cocok dengan obat yang mengatasi halusinasi. Dengan terpaksa, dokter saya menaikkan dosis menjadi 2x lipat dan tadinya hanya mau memberikan waktu seminggu. Namun, saya meminta 2 minggu untuk melihat reaksi yang sebenarnya.

Meski itu berarti harus dengan tugas tambahan, memberikan laporan dalam rentang waktu 2 minggu tersebut. Saya tidak khawatir, karena memiliki Daylio sebagai pencatat dan bisa diubah menjadi PDF yang di cetak. Hal yang dikhawatirkan justru cocok dengan obat tersebut dan itu adalah bencana jika sampai terjadi.


Karena ukurannya yang lebih besar dari yang biasanya saya minum. Juga karena rasanya ketakutan setiap meminumnya karena takut tersedak dan kemudian mati. Seumur hidup, saya belum pernah berdoa panjang sebelum minum obat. Namun, depakote ER500 membuat saya melakukan hal yang tidak pernah dilakukan itu.

Mungkin akan bercerita efek samping obatnya seperti apa nantinya setelah 2 minggu terlewati. Namun, satu hal yang penting adalah saya jera untuk jatuh cinta. Benar-benar jera sampai berpikir jika jatuh cinta maka harus dibayar dengan ini, maka buatlah saya tidak merasa saja. Itu jauh lebih baik daripada setiap menatap depakote ER500 saya merasa was-was karena tahu keseimbangan zat kimia di otak tidaklah berada dalam situasi idealnya.
Read More